Annual Report 2022

94 Laporan Manajemen Management Reports Mempertajam fokus dan bertransformasi lebih kuat untuk mewujudkan nilai yang berkesinambungan | Laporan Tahunan 2022 Tinjauan Ekonomi Global Tahun 2022 seharusnya menjadi momentum untuk bangkit dari dampak pandemi COVID-19. Optimisme akan hal tersebut dibangun dengan berlandaskan pada pencapaian pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 yang telah menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Namun, kondisi kembali berubah ketika timbulnya varian Omicron pada COVID-19 yang kembali mengguncang dunia, diikuti dengan konflik geopolitik di beberapa kawasan yang puncaknya ditandai dengan invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina. Perang Rusia – Ukraina memberikan dampak yang sangat besar terhadap perekonomian global. Salah satu dampak utama dari perang tersebut adalah menurunnya pasokan komoditas energi, khususnya minyak bumi dan gas, sehingga harga komoditas energi secara umum mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Dampak dari kelangkaan komoditas energi tersebut menjadi sangat besar karena terjadi disaat sebagian besar negara di dunia tengah gencar meningkatkan produksi setelah sebelumnya terkendala oleh pandemi COVID-19. Perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan yang menyebabkan gangguan rantai pasok. Lembaga Dana Moneter Internasional, dalam laporan World Economic Outlook yang diterbitkan pada Februari 2023 memprediksi ekonomi global tumbuh hanya sebesar 3,4% di 2022, dari sebelumnya mencapai 6,1% di 2021. Gangguan rantai pasok berdampak tidak hanya pada pelemahan ekonomi global, namun juga pada tingginya tingkat inflasi. Tingkat inflasi sampai dengan akhir 2022 diperkirakan mencapai 8,8%, meningkat signifikan dibanding tingkat inflasi di 2021 yang hanya sebesar 4,7%. Merespon kondisi tersebut, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengambil kebijakan untuk meningkatkan suku bunga acuannya yang secara akumulasi kenaikannya sebesar 425 bps sampai dengan Desember 2022 sehingga suku bunga acuan antara 4.25% hingga 4.5%. Peningkatan suku bunga kebijakan The Fed di tengah ketidakpastian kondisi global mengakibatkan apresiasi US Dolar terhadap berbagai mata uang, tidak terkecuali rupiah. Rata-rata kurs rupiah sebesar Rp14.850 per US Dolar selama 2022, mengalami pelemahan sekitar 3.8% dibanding rata-rata kurs sebesar Rp14.308 per US Dolar selama 2021. Tinjauan Ekonomi Nasional Sebagai bagian dari perekonomian global, Indonesia juga turut merasakan dampak dari ketidakpastian ekonomi global. Namun, dengan fundamental ekonomi yang cukup kuat, ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh cukup baik di tahun 2022. Ekonomi Indonesia tahun 2022 tumbuh sebesar 5,31%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi tahun 2021 sebesar 3,69%. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut terutama dikontribusikan oleh peningkatan konsumsi rumah tangga yang sebelumnya tertahan selama COVID-19. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga didukung oleh kinerja ekspor yang sangat baik sehingga secara umum neraca perdagangan Indonesia tahun 2022 mengalami Global Economic Overview 2022 should be a momentum to rise from the impact of the COVID-19 pandemic. Such optimism was built based on the achievement of global economic growth in 2021 that grew favorably. However, the condition has once again changed when the emergence of the Omicron variant of Covid-19 shook the world, followed by a geopolitical conflict conflicts in several regions, the peak of which was marked by Russia’s invasion to Ukraine. The Russia-Ukrainian War had a huge impact on the global economy. One of the main impacts of the war was the declining supply of energy commodities, especially oil and gas, hence making the price of energy commodities in general to increase significantly. The impact of energy commodities scarcity was huge, because it occurred at a time when most countries in the world were intensively increasing production after previously being constrained by the COVID-19 pandemic. Prolonged Russian-Ukrainian war had led to supply chain disruptions. The International Monetary Fund, in its World Economic Outlook report published in February 2023, predicted that the global economy will grow by only 3.4% in 2022, from the previous 6.1% in 2021. Supply chain disruptions have an impact not only on weakening the global economy, but also high inflation rate. The inflation rate until the end of 2022 was estimated to reach 8.8%, a significant increase compared to the inflation rate in 2021 which was only 4.7%. Responding to these conditions, the United States Central Bank (The Fed) adopted a policy to increase its benchmark interest rate, which accumulated an increase of 425 bps until December 2022 so that the benchmark interest rate is between 4.25% and 4.5%. The increase in The Fed’s policy interest rate amidst the uncertainty of global conditions resulted in the appreciation of the US Dollar against various currencies, including the rupiah. The average rupiah exchange rate was Rp 14,850 per US Dollar in 2022, experiencing a weakening of around 3.8% compared to the average exchange rate of Rp14,308 per US Dollar in 2021. National Economic Overview As part of the global economy, Indonesia also felt the impact of global economic uncertainty. However, with fairly strong economic fundamentals, the Indonesian economy still grew quite well in 2022. The Indonesian economy in 2022 grew at 5.31%, higher than the economic growth in 2021 at 3.69%. This high economic growth was mainly contributed by an increase in household consumption which was previously restrained during COVID-19. Apart from that, Indonesia’s economic growth was also supported by excellent export performance, therefore in general, Indonesia’s trade balance in 2022 experienced a

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5