116 Profil Perusahaan Company Profile Mempertajam fokus dan bertransformasi lebih kuat untuk mewujudkan nilai yang berkesinambungan | Laporan Tahunan 2022 yang pendanaannya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Salah satunya adalah Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura yang manfaatnya kian dirasakan oleh seluruh penduduk Jawa dan Madura. Pada tahun 2014, WIKA hadir dengan paradigma baru. WIKA mengklasifikasi ulang segmen bisnisnya menjadi 5 (lima) pilar, yakni Industri, Infrastruktur & Gedung, Energi dan Industrial Plant, Realti dan Properti, dan Investasi. WIKA berharap, melalui segmentasi demikian kinerja WIKA lebih solid dalam mewujudkan “operational excellence for best results” melalui peningkatan kualitas produk, anggaran yang lebih efisien serta waktu penyelesaian proyek yang lebih cepat. Posisi WIKA pun semakin mantap sebagai salah satu pemain di industri kelistrikan dan migas berkat kontrak-kontrak baru di industri tersebut yang berhasil dimenangkannya. Tahun 2015 menandai dimulainya babak baru WIKA dengan menggarap proyek infrastruktur berskala mega. Proyek ini tak hanya menantang, namun mempertaruhkan nama baik Bangsa, yakni proyek MRT (Mass Rapid Transportation) Jurusan Bundaran HI-Lebak Bulus di Jakarta. Pada tahun 2016, WIKA melakukan penawaran saham umum terbatas kepada para pemegang saham lama, sehingga jumlah saham beredar WIKA menjadi sebanyak 8.969.951.372. Dana hasil penawaran umum terbatas tersebut selanjutnya digunakan untuk mendanai beberapa proyek strategis seperti pembangunan jalan tol dan pembangkit listrik. Di tahun 2017, WIKA melakukan transformasi terhadap corporate value dari yang sebelumnya adalah CIBERTI (Commitment, Innovation, Balance, Excellence, Relationship, Teamwork dan Integrity) menjadi ACE (Agility, Caring, dan Excellence) sebagai bentuk respon WIKA untuk menghadapi tantangan bisnis yang dinamis. WIKA mengawali tahun 2018 dengan menghimpun dana sebesar Rp5,4 Triliun dari penerbitan obligasi global berdenominasi rupiah atau Komodo Bond di Singapore Exchange dan London Stock Exchange. Komodo Bond WIKA mengalami oversubscribed 2,5x yang menunjukkan antusiasme yang tinggi dari para investor global untuk berinvestasi di sektor infrastruktur Indonesia. Perseroan juga menambahkan Rekayasa Konstruksi dan Integrated Transportation System sebagai lini bisnis baru guna memperkuat daya saing Perseroan. Untuk terus bertumbuh menjadi lebih besar dan stabil, WIKA yang sebelumnya memfokuskan bisnisnya pada bidang konstruksi, kini mulai memperkuat bisnisnya pada bidang investasi, seperti di sektor jalan tol, power plant dan transit oriented development untuk memperbesar porsi recurring income. Pada tahun 2019, WIKA menetapkan Visi dan Misi 2030 untuk menjawab tantangan masa depan Perseroan. WIKA sebagai perusahaan investasi dan Engineering, Procurement and Construction (EPC), secara berkelanjutan berkomitmen untuk berperan penting dalam menghadirkan kualitas kehidupan yang lebih baik. WIKA juga semakin memperkuat projects financed by the State, as well those in the Local Budgets and Expenditure. One of which was the Suramadu bridge that connects Java and Madura Islands providing many benefits to the people. In 2014, WIKA developed a new paradigm. WIKA restructured its business segments into 5 (five) pillars namely: Industry, Infrastructure & Building, Energy & Industrial Plant, Realty & Property, and Investment. With this segmentation WIKA’s performance is expected to be more solid to attain “operational excellence for the best results” through the improvement of product quality, more efficient budgets and faster project completion. By obtaining new contracts in the power generation and oil and gas sectors, WIKA further solidified itself as one of the players in the industry. 2015 marked the start of WIKA’s new era with mega infrastructure projects, which were not only challenging, but risked the nation’s reputation, namely the Bundaran HI-Lebak Bulus MRT (Mass Rapid transportation) Route in Jakarta. In 2016, WIKA undertook a limited public offering to its old shareholders, raising WIKA’s outstanding shares to 8,969,951,372. The proceeds were used to finance several strategic projects such as toll road development and power plant. In 2017, WIKA transformed its corporate values from CIBERTI (Commitment, Innovation, Balance, Excellence, Relationship, Teamwork and Integrity) to ACE (Agility, Caring and Excellence) as WIKA’s response to the dynamic business challenges. WIKA started 2018 by raising funds amounting to Rp5.4 trillion through the issuance of rupiah-denominated global bonds or Komodo Bonds on the Singapore Exchange and the London Stock Exchange. WIKA’s Komodo Bonds were oversubscribed 2.5x showing the high enthusiasm from global investors to invest in Indonesia’s infrastructure sector. The Company also added Construction Engineering and Integrated Transportation System as new lines of business to strengthen its competitiveness. Continue to grow larger and be more stable, WIKA, which previously focused its business in the construction sector, now began to strengthen its business in the investment sector, such as in toll roads, power plants and transit oriented development sectors to increase the recurring income portion. In 2019, WIKA officially established the 2030 Vision and Mission to address the company’s challenges in the future. WIKA, as a sustainable investment and Engineering, Procurement and Construction (EPC) Company, is committed to playing an important role in presenting a better quality of life. WIKA also strengthened its position in the global
RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5