98 Ikhtisar Utama Performance Highlight Profil Perusahaan Company Profile Analisis dan Pembahasan Manajemen Management Disscusion and Analysis Laporan Manajemen Management Report Laporan Tahunan 2023 | Annual Report 2023 Tinjauan Ekonomi, Keuangan, & Fiskal Edisi IV Tahun 2023 yang dirilis Kementerian Keuangan mengatakan kondisi perekonomian global hampir selama satu setengah tahun terakhir diwarnai kebijakan moneter ketat, ditandai dengan kenaikan suku bunga acuan yang relatif tinggi. Awal mula tren kenaikan suku bunga tersebut terutama dipicu oleh peningkatan laju inflasi yang tinggi di berbagai negara sebagai akibat pandemi. Sementara itu, perekonomian Tiongkok telah mengalami metamorfosis ekonomi dari sebuah perekonomian yang direncanakan secara terpusat menjadi perekonomian berorientasi pasar yang besar dan dinamis. Evolusi ini tidak hanya mendorong Tiongkok untuk menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia tetapi juga turut merekonfigurasi lanskap perekonomian global. Kebijakan pengetatan moneter berlanjut merespon tekanan inflasi yang masih tinggi. Tren inflasi yang melandai tidak serta merta mendorong pelonggaran kebijakan moneter global secara simultan. Beberapa bank sentral memutuskan masih mempertimbangkan perkembangan penurunan inflasi secara berkelanjutan sebelum melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Amerika Serikat masih menahan suku bunga acuan pada level 5,50% (November), begitu pula Uni Eropa dan Inggris dengan suku bunga acuan masing-masing yang masih ditahan pada tingkat 4,50% dan 5,25%. Sementara itu, suku bunga di negara berkembang seperti Meksiko di 11,25%, India di 6,50% dan Indonesia berada di tingkat 6,00%. Seperti halnya di negara maju, bank sentral di negara berkembang juga masih terus memantau kondisi inflasi secara berkelanjutan sehingga memerlukan waktu untuk memangkas suku bunga lebih lanjut. Oleh sebab itu, meskipun inflasi tengah melandai, suku bunga global diperkirakan masih akan berada di level yang tinggi beberapa waktu ke depan. Saat ekonomi dunia melambat, Indonesia sebagai salah satu negara Asia Tenggara menunjukkan performa ekonomi yang solid dengan tumbuh mencapai 5,05% (year-on-year/yoy) sepanjang tahun 2023. Pada Triwulan IV-2023 pertumbuhan tercatat 5,04% (yoy) atau lebih tinggi dari triwulan III-2023 yang tumbuh sebesar 4,94% (yoy). Selain itu, ketahanan eksternal Indonesia masih tetap kuat di tengah pelemahan ekonomi global, terlihat dari neraca perdagangan Indonesia yang konsisten mencatatkan surplus selama 43 bulan berturut turut. Secara kumulatif Januari-November 2023, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus USD33,63 miliar. Economic, Financial and Fiscal Review, Edition IV 2023, released by the Ministry of Finance, declared that global economic conditions for almost one and a half year were characterized by tight monetary policy, marked by a relatively high increase in benchmark interest rates. The beginning of the increasing interest rates trend was mainly triggered by an increase in high inflation rates in various countries as a result of the pandemic. Meanwhile, China’s economy has undergone an economic metamorphosis from a centrally planned economy to a large and dynamic market-oriented economy. This evolution did not only push China to become the second largest economy in the world but also reconfigured the global economic landscape. The monetary tightening policy continues to respond to persistently high inflationary pressures. The sloping inflation trend does not immediately prompt simultaneous easing of global monetary policy. Some central banks decided to consider sustained inflation decline before easing monetary policy. The United States is still holding its benchmark interest rate at 5.50% (November), as are the European Union and the United Kingdom with their respective benchmark interest rates still being held at 4.50% and 5.25%. Meanwhile, interest rates in developing countries such as Mexico are at 11.25%, India at 6.50% and Indonesia at 6.00%. Similar to developed countries, central banks in developing countries also continue to monitor inflation conditions on an ongoing basis, requiring time to further cut interest rates. Therefore, even though inflation is sloping, global interest rates are expected to remain at high levels for some time to come. When the world economy slowed down, Indonesia as one of the Southeast Asian countries showed solid economic performance by growing at 5.05% (year-on-year/yoy) throughout 2023. In Quarter IV-2023, a growth at 5.04% (yoy) was recorded or higher than the third quarter of 2023 which grew by 4.94% (yoy). Apart from that, Indonesia’s external resilience remains strong amidst the weakening global economy, as can be seen from Indonesia’s trade balance that has consistently recorded a surplus for 43 consecutive months. Cumulatively from January to November 2023, Indonesia’s trade balance recorded a surplus of USD33.63 billion.
RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5