Annual Report

134 Consistent Transformation Toward Fit for Future Konsisten Bertransformasi untuk Menuju Masa Depan yang Sehat Ikhtisar Kinerja Keuangan Financial Performance Highlights Laporan Manajemen Management Report Profil Perusahaan Company Profile Analisis dan Pembahasan Manajemen Management Discussion and Analysis Selain itu, kendati tingkat inflasi global telah mengalami moderasi, namun belum serta merta membuat tingkat suku bunga mengalami penurunan. Sebagian besar Bank Sentral di dunia masih mempertahankan kebijakan higher for longer sehingga pertumbuhan ekonomi cenderung melambat. Kondisi tersebut semakin diperberat dengan semakin memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat, Eropa dan Tiongkok. Kondisi ini telah membuat ekonomi Tiongkok mengalami perlambatan sehingga berdampak pada perekonomian negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Tiongkok, termasuk Indonesia. Dana Moneter Internasional (IMF), dalam laporan World Economic Outlook yang terbit pada Januari 2025 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tetap lemah, dengan proyeksi pertumbuhan PDB dunia sekitar 3,2%. Di negara-negara maju, pertumbuhan diperkirakan meningkat sedikit dari 1,6% pada tahun 2023 menjadi 1,7% pada tahun 2024. Sebaliknya, di negara-negara berkembang, pertumbuhan diproyeksikan melambat dari 4,3% pada tahun 2023 menjadi 4,2% pada tahun 2024. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global juga tercermin dari Indeks PMI Manufaktur yang telah berada di bawah 50 di hampir semua negara. Ini menunjukan tren perlambatan ekonomi terjadi di semua negara. Di tengah tekanan kondisi global, ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh dengan solid. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional (BPS), tahun 2024 ekonomi Indonesia tumbuh 5,03% pada 2024, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,05% dan berada di bawah target yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,2%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang memberikan kontribusi hingga 54,04% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan tumbuh sebesar 4,94% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, ekonomi Indonesia juga ditunjang oleh kinerja ekspor yang masih terjaga dengan baik. Pada tahun 2024, nilai ekspor Indonesia mencapai USD264,70 miliar, naik 2,29% dibandingkan 2023. Indonesia juga mencatatkan surplus sebesar USD31,04 miliar pada 2024. Surplus tersebut dihasilkan dari surplus nonmigas sebesar USD51,44 miliar dan defisit migas sebesar USD 20,40 miliar. Surplus tahunan ini melanjutkan tren surplus untuk lima tahun berturutturut sejak 2020. Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) berhasil mencapai sasaran inflasi pada 2024 sebesar 1,57%, yang terjaga dalam rentang sasaran 2,5% dengan toleransi kurang lebih 1%. Additionally, while global inflation has moderated, this has not necessarily led to a reduction in interest rates. Most central banks worldwide have maintained a "higher for longer" policy, which is causing economic growth to slow down. This situation is further exacerbated by the escalating trade war between the United States, Europe, and China. This has led to a slowdown in China’s economy, which in turn affects the economies of countries with trade relations with China, including Indonesia. The International Monetary Fund (IMF), in its World Economic Outlook report released in January 2025, projected global economic growth to remain weak, with a global GDP growth forecast of around 3.2%. In developed countries, growth is expected to slightly increase from 1.6% in 2023 to 1.7% in 2024. Conversely, in emerging markets, growth is expected to slow from 4.3% in 2023 to 4.2% in 2024. The slowdown in global economic growth is also reflected in the Manufacturing PMI Index, which has been below 50 in almost all countries, indicating a trend of global economic slowdown. Amid the pressures of global situation, Indonesia's economy has still managed to grow solidly. According to data from the National Statistics Agency (BPS), Indonesia's economy grew by 5.03% in 2024, slightly lower than the previous year's growth of 5.05%, and below the government's target of 5.2%. Indonesia's economic growth is primarily supported by household consumption, which contributed 54.04% to Indonesia's Gross Domestic Product (GDP) and grew by 4.94% compared to the previous year. In addition, Indonesia's economy has been supported by strong export performance. In 2024, Indonesia's export value reached USD 264.70 billion, an increase of 2.29% compared to 2023. Indonesia also recorded a surplus of USD 31.04 billion in 2024, driven by a non-oil and gas surplus of USD 51.44 billion and an oil and gas deficit of USD 20.40 billion. This annual surplus continues the trend of surpluses for five consecutive years since 2020. The Indonesian government and Bank Indonesia (BI) successfully achieved the inflation target of 1.57% in 2024, within the target range of 2.5%, with a tolerance of approximately 1%.

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5