138 Consistent Transformation Toward Fit for Future Konsisten Bertransformasi untuk Menuju Masa Depan yang Sehat Ikhtisar Kinerja Keuangan Financial Performance Highlights Laporan Manajemen Management Report Profil Perusahaan Company Profile Analisis dan Pembahasan Manajemen Management Discussion and Analysis Dalam melakukan monitoring, Direksi dibantu oleh team manajemen, unit Internal Audit dan Corporate Secretary, selalu memantau penerapan strategi dan kebijakan yang telah ditetapkan dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan sejalan dengan perubahan situasi dan kondisi perekonomian. Direksi memiliki peran yang sangat strategis dalam memastikan strategi dilaksanakan sesuai rencana. Termasuk dalam perumusan strategi dalam pencapaian visi dan misi Perseroan. Dimana pernyataan visi dan misi WIKA 2030 memuat aspirasi Perseroan untuk dapat berkembang secara optimal sebagai emiten konstruksi terdepan di Indonesia dan menetapkan perannya dalam mendukung program percepatan pembangunan infrastruktur yang diinisiasi oleh Pemerintah untuk meningkatkan laju pertumbuhan perekonomian Nasional. KENDALA YANG DIHADAPI DAN STRATEGI PENYELESAIANNYA Tahun 2024, WIKA menghadapi sejumlah tantangan yang mempengaruhi kinerja Perseroan. Kebijakan pemerintah yang mengurangi anggaran infrastruktur membuat perolehan kontrak baru dan penjualan di tahun 2024 dan proyeksi tahun 2025 mengalami penurunan. Hal ini menyebabkan WIKA harus mencari target pasar pengganti seperti sektor EPCC dan Industri, namun hal ini sangat bergantung pada ketersediaan Capex BUMN dan Swasta. Selain itu, kondisi Perseroan yang masih mencatat kerugian akibat proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) sesuai porsi WIKA di proyek tersebut secara equity method. Karena itu, pemulihan penyertaan dan modal kerja WIKA pada Proyek KCJB menjadi salah satu kunci utama perbaikan keuangan WIKA di masa mendatang. WIKA telah mendapat tambahan PMN sebesar Rp6 triliun pada tahun anggaran 2024 untuk modal kerja PSN, namun Penyaluran atas Dana PMN tersebut masih memiliki keterbatasan dimana beberapa Proyek yang menjadi sasaran PMN tersebut telah selesai atau tidak lagi menjadi PSN sesuai PerKemenko, sehingga diperlukan Perubahan Peruntukan PMN agar dapat di lakukan disbursement. Sejak pre Covid-19, WIKA banyak melakukan ekspansi bisnis properti penunjang TOD sehingga persediaan properti WIKA meningkat signifikan. Namun saat ini industri properti tengah menghadapi kondisi over supply, penurunan daya beli dan adanya ketidakpastian ekonomi global, sehingga hal tersebut juga menjadi tantangan bagi Perseroan. Terlebih WIKA juga masih memiliki beban bunga yang cukup tinggi akibat pinjaman berbunga yang dilakukan WIKA untuk membiayai proyek investasi penugasan yang belum membuahkan hasil. Menghadapi kondisi tersebut, Perseroan harus lebih selektif dalam mengikuti tender. Perseroan harus memastikan proyek baru yang dikerjakan memiliki sistem pembayaran yang sehingga tidak membebani cash flow Perseroan. In monitoring, assisted by the management team, Internal Audit unit and Corporate Secretary, Board of Directors constantly monitors the implementation of established strategies and policies and makes necessary adjustments in line with changes in the economic situation and conditions. Board of Directors has a very strategic role in ensuring that the strategy is implemented according to plan. Including in the formulation of strategies in achieving the Company's vision and mission. In which the WIKA 2030 vision and mission statement contains the Company's aspiration to optimally develop as a leading construction issuer in Indonesia and establish its role in supporting the infrastructure development acceleration program initiated by the Government to increase the pace of national economic growth. CONSTRAINTS FACED AND RESOLUTION STRATEGIES In 2024, WIKA encountered a number of challenges that affected the Company's performance. Government policies that reduced the infrastructure budget caused a decline in new contract acquisitions and sales in 2024 and projections for 2025. This caused WIKA to look for replacement target markets such as the EPCC and Industrial sectors, but this depended heavily on the availability of SOE and Private Capex. In addition, the Company continued to record losses due to JakartaBandung High-Speed Rail (KCJB) project according to WIKA's portion in the project using the equity method. Therefore, the recovery of WIKA's participation and working capital in the KCJB Project is one of the main keys to WIKA's financial improvement in the future. WIKA has received an additional state equity participation (PMN) of Rp6 trillion in the 2024 fiscal year for PSN working capital, but the distribution of PMN funds still has limitations where several of the projects targeted by the PMN have been completed or are no longer PSNs according to the Coordinating Ministry for Economic Affairs, requiring a change in the allocation of PMN in order for the disbursement to be made. Since pre-Covid-19, WIKA has expanded its TOD supporting property business, resulting in a significant increase in WIKA's property inventory. However, the property industry is currently facing over-supply, a decline in purchasing power, and global economic uncertainty, which also pose challenges for the Company. Moreover, WIKA still has a high interest burden due to interest-bearing loans taken out to finance assignment investment projects that have not yet yielded results. To deal with this situation, the Company must be more selective in participating in tenders. The Company must ensure that new projects have payment systems that do not burden its cash flow.
RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5